• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku
Hai Guys,
What's Up!

Kalau di postingan sebelumnya aku bahas tentang danau hati besar Karawapop, maka kali ini aku akan bahas danau cinta versi mininya, yaitu danau love kecil atau biasa di sebut Dafalen.


Berbeda dengan danau Karawapop yang bisa di daki melalui tangga, untuk menuju puncak demi melihat danau hati kecil ini maka trek yang akan didaki lebih berat. Memang ada tangga kayu tersedia, tapi jarak antar tangganya itu jauh banget kayaknya dibuat standar panjangnya kaki bule. Apadaya kaki saya yang pendek ini. Jadi tinggi satu anak buah tangga itu hampir setengah tinggi badan saya, nah loh kebayang dong perjuangannya.


Selain itu di beberapa titik, tangga kayunya udah mulai rusak bahkan hampir tak bersisa. Beneran dehh harus hati-hati banget pas daki bukit ini.

Diperlukan sekitar 20 menit untuk sampai puncak, memang gak terlalu tinggi, tapi rutenya yang terjal dan miring banget yang bikin agak merinding.

Sesampainya di puncak, langit yang dari tadi mendungpun mulai mengeluarkan rintiknya. Ya ampun, baru juga sampai puncak. Langsung deh saya dan teman giliran untuk berfoto ala kadarnya. Yang penting ada bukti udah pernah ke puncak ini. Hehehehe

Selain permukaan air yang menunjukkan view berbentuk hati, di sisi lain kita bisa melihat indahnya gugusan bukit dengan air hijau toscanya. Sayang langit sudah sangat mendung. Jadi gak keliatan jelas keindahannya.



Guyuran hujan semakin deras, gak ada tempat berteduh untuk berfotopun udah gak memungkinkan. Ada teman-teman saya yang langsung turun, sedangkan saya memilih untuk berteduh. Ehh ternyata hujan gak kunjung reda. Mau gak mau turun deh.

Waktu turun jadi lebih susah, karena kami harus ekstra hati-hati. Duhhh pokoknya udah berasa kayak anak gunung terjebak hujan deh. Biar aman kami memilih pelan yang penting selamat. Lagian udah basah ini.

Akhirnya kami tiba di dermaga kembali. Ada teman-teman yang masih berfoto juga. Kayaknya sih karena kurang puas foto di atas. Hehehe.

Demikianpun dengan saya. Bayangin aja, kami mendaki sekitar 20 menit, ehh di puncak gak sampai 5 menit. Hemmm semoga ada rejeki lebih biar bisa balik lagi ke sini. Amin.

Happy Reading Segerakan Traveling!

With Love,

MRS



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai Guys, 
What's Up! 




Nyanyi bareng dulu yokk...

Begitu banyaknya pulau yang indah,
Inilah Papuaku uuu
Permata hijau laut dan seninya
Begitu menyenangkan jiwa

Banyak pujian dan kekaguman
Budaya dan alammu uu
Kamu dan aku sama-sama cinta
Cinta padamu Papuaku

Tiada yang lebih membanggakan jiwa
Hanyalah Papuaku uu
Senyuman tulis dan penuh cinta
Sungguh menyentuh sanubari

Harumkan... Indonesia
Dari... Sini
Satu kan... Tujuan...
Dalam.... Cinta

Cobalah menjaga kan sudah semestinya dijaga
Papuaku tercinta biarkan alamnya terus indah.

Lirik di atas adalah sebagian lirik dari lagu " Papua dalam Cinta" yang dinyanyikan oleh Pay ft Soa-soa. Asli dehh liriknya beneran menggambarkan keadaan Papua yang bagusnya... WAHGELASEHH.. which is gue sebenernya bingung harus ngungkapinnya pake kalimat apa.

Jadi aku mau ngasih tahu tentang satu wisata yang menurut aku indah banget. Karya Tuhan yang luar biasa yang di titipkan di Tanah pace mace ini. Saking cantiknya bikin speechless..

Jadi namanya adalah Danau Karawapop, atau biasa dikenal sebagai danau cinta. Danau ini berada di kawasan geosite Karawapop. Danau yang jika dilihat dari ketinggian berbentuk seperti hati ini adalah danau alami. Berbentuk seperti hati karena warna air yang berbeda yang membentuk hati. Ajaib banget kan!


Sesuai namanya, kawasan Raja Ampat itu terbagi menjadi empat bagian pulau besar. Yaitu dengan Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo. Nah di Misool lah kita bisa melihat danau cantik ini.

Katanya, danau ini dulunya ditemukan oleh wisatawan asing yang sedang menjelajahi pulau-pulau kecil di Misool. Iya sih kalau bule biasanya liburan sampai berbulan-bulan lah kita bisa liburan seminggu aja udah syukur banget.


Danau Karawapop ini masih dikelola perorangan ya, belum dikelola pemerintah setempat. Jadi untuk bisa melihat danau ini, kita harus ijin dulu dengan ama pemiliknya yang ada di kampung Yellu. Nanti bakalan dikasih kunci untuk bisa masuk ke dalam kawasan ini.



Harganya sendiri 70 ribu untuk wisatawan lokal dan 75 ribu untuk wisatawan asing. Serius ini kenapa perbandingannya murah banget ya, harusnya untuk wisatawan asing bisalah dua kali lipat. Kita keluar negeri aja susah. Hehehe.



Di bagian pintu masuk sudah tersedia dermaga, gazebo dan loket masuk. Sesudah membayar kita baru bisa masuk. Selanjutnya kita harus menaiki tangga yang sudah dibangun selama sekitar 30 menit. Tenang, 30 menit engap campur happy kog, soalnya udaranya segar dan di beberapa anak tangga udah ada spot untuk istirahat. Jadi gak perlu kuatir.



Sesampainya di atas, ada dua spot yang tersedia. Spot pertama sudah dibangun ruangan dari kayu yang memudahkan untuk mengabadikan bentuk hati danau Karawapop. Untuk yang mau lebih natural, maka bisa berfoto di atas bebatuan karang, tapi ya itu kudu hati-hati banget karena langsung berhadapan dengan jurang.



Selain bisa melihat view danau berbentuk hati dari atas kita bisa juga lihat dermaga tempat pemberhentian kita, nanti langsung takjub, wahh ternyata aku naik setinggi itu ya. Hehehee.



Oiya, jangan lupa pake sunblock dan bawa air minum ya karena belum ada warung di atas. Terus harus mau antre untuk berfoto. Selain itu cukup sadar untuk gak ambil foto terlalu lama karena banyak yang antre sedangkan tempat untuk berdiri juga terbatas, jadi biasakan peka dengan keadaan sekitar ya guys. Satu lagi, jangan buang sampah sembarangan dan selalu jaga fasilitas yang ada ya guys. Jadi keberadaan danau ini selalu terjaga.


My random opinion

Setelah liat danau ini awalnya aku berpikir, kalau Tuhan tepat banget ngedesain danau ini di tanah Papua, jadi tanah Papua punya daya tarik wisata yang membuat para pengunjung datang. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, kayaknya bukan karena itu dehh, tapi lebih kepada karena Tuhan tahu, keberadaan danau cinta ini menunjukkan identitas warga Papua yang penuh akan cinta kasih dan pasti akan menjaga danau ini dengan sepenuh hati. Duhhh bisa dibilang danau Karawapop menjadi simbol cinta Tuhan kepada tanah Papua.

God Bless Papua! 

Happy reading Segerakan Traveling!

With Love, 

MRS 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Horas!🇮🇩



Hai guys, jumpa lagi dipostingam terbaru aku, masih berhubungan sama postingan tentang Pantai Yendidori. Jadi setelah eksplor pantai Yendidori aku dan mba Irma lanjutin perjalanan menuju pantai Adoki Raja 3. Jadi salah satu pantai yang wajib kalian kunjungi kalau main ke Biak.


Pantai ini disebut pantai Adoki Raja 3 karena ada tiga gugusan pulau kecil yang kita bisa liat dari atas pantai Adoki. Untuk memudahkan pengunjung maka sudah dibangun spot foto dengan latar belakang tiga pulau tersebut.


Selesai liat-liat di atas, saya nekad turun ke bawah menuju tepi pantai. Padahal kaki saya masih pegel banget efek naik turun ke pantai Samares. Ya aku cuma mikir, sayang banget udah jauh-jauh sampe sini tapi sekadar liat dari atas aja.


Pemikiran aku ga salah, untung banget aku turun ke bawah. Kalau ga aku ga bakalan liat air super jernih di bawahnya. Oiya, berbeda dengan kebanyakan pantai lain yang biasanya tepinya adalah pasir, pantai-pantai di Biak ini dominan dipenuhi batuan karang di tepinya, ga salah deh kota Biak dapat julukan "Kota Karang Panas" yang katanya Biak emank panas banget, sayang aku justru datang di musim hujan, jadi yang ada malah hujan mulu.


Di tepi pantai, ada beberapa mama yang sedang mencuci baju. Jadi ada semacam kolam buatan yang dibatasi batuan karang gitu, wah liat para mama mencuci dengan sangat bahagia, aku udah kepengen nyebur aja. Sayang aja ga ada waktu jadi aku cuma ngiler doang liat para mama asik mandi dan nyuci.





Liat jam yang udah semakin siang, aku pun naik ke atas. Mba Irma kasihan banget aku tinggal sendiri. Hehehe. Sesampainya di atas kamipun ga bayar cukup bayar parkir. Sebelum ke Bandara kami mampir sarapan bubur ayam dulu. Selesai sarapan kamipun menuju Bandara.


Hem, ga terasa 3 hari sudah saya di Biak. Ya walaupun masih banyak  banget tempat wisata yang belum bisa saya kunjungi. Apalagi dunia bawah lautnya yang katanya indah banget! Ahh semoga bisa kembali lagi ke kota ini, karena katanya BIAK itu kependekan dari Bila Ingat Akan Kembali!

Happy Reading Segerakan Traveling!

With Love, 

MRS 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Horas! 🇮🇩



Dipostingan kali ini aku mau cerita sedikit tentang perjalanan aku ke pantai Yendidori Biak, sebenernya ini merupakan kisah lanjutan dari pengalaman aku join kegiatan teaching and traveling#18 di SDN Samares. Keesokan hari sebelum mau terbang balik ke Semarang, masih ada waktu tersedia sampe setengah hari. So ga mau buang kesempatan aku mau explore pantai yang deket di sekitaran kota Biak, nah salah satunya adalah pantai  Yendidori. Jaraknya cuma sekitar 15 menit dari kota, ditemenin mba Irma, naik motor kami pun mulai menjelajah.


Baidewei ngomongin mba Irma, aku bersyukur banget bisa ketemu dia. Ya mba Irma ini memang salah satu panitia teaching and traveling, nah dia ijinin aku nginep di kost nya buat semalem, mayan banget dong buat hemat pengeluaran, tapi yang paling penting adalah nambah sodara! Seneng banget pokoknya.


Kembali ke cerita awal, nah pas jalan menuju pantai Yendidori kami sempet berteduh sejenak karena tiba-tiba hujan deras turun, aku pribadi udah ngerasa ga enak sih, nyusahin banget gitu, cuma mikir sayang amat langsung balik bandara, syukurnya mba Irma ini tetep mau nemenin dengan senang hati, mungkin dia kasian juga liat aku udah jauh2 cuma bentar doang di Biak, makannya dia rela-relain dehh bolos kerja.. Hahaha.. Luff banget lah ma mba Irma, semoga bisa ketemua next nya.



Setelah berteduh dan hujan reda kami lanjutin perjalanan, ga lama ehh udah sampe aja. Jalanan juga udah bagus, dan serunya pantai ini berada ga jauh dari jalan besar. Agak kaget ada pantai deket banget gini dari kota.. Wahh bakalan happy aku kalo bisa punya rumah dekat laut gini.


Dipintu masuk, ada gapura yang bertuliskan nama pantai Yendidori. Lalu ada tangga turun ke bawah, dan dari atas udah langsung terliat kecantikan pantai Yendidori, meski langit cukup gloomy sih. Namun, airnya yang hijau tosca ditemani pohon nyiur di sekelilingnya tetep bikin kecantikan pulau ini begitu mempesona.

Yang bikin ngakak adalah di pohon kelapa ditempelin tulisan-tulisan gombal dalam bahasa Papua yang bikin hati meleleh. Hehehe. Lucu aja.



Satu hal unik lainnya adalah terdapat monumen Salib di sini. Wewww.. jarang-jarang dong liat Salib di Pantai. Mungkin karena penduduknya mayoritas Kristen jadi ada monumen Salib di sini.


Oiya, untuk masuk pantai ini ga dikenakan biaya, cukup bayar parkir aja. Wah udah bagus, gratis lagi mana pantainya mudah banget dijangkau. Mantul!

Kelar foto sana sini dan rehat sejenak, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke pantai selanjutnya, pantai yang jadi salah satu ikon kota Biak, pantai apa hayo? tunggu di postingan selanjutnya ya guys!

Happy Reading Segerakan Traveling!

With Love, 

MRS


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai Guys, 
What's Up! 


Yuk masuk ke dalam babak akhir cerita keikutsertaan saya sebagai volunteer di kegiatan teaching and traveling #18 yang diadakan di SDN Samares, dilanjutkan traveling di pantai Samares dan tempat berikutnya adalah telaga biru Wopersnondi, Biak.


Jaraknya gak jauh dari pantai Samares, tinggal jalan menuju hutan selama beberapa menit. Akses menuju telaga juga sudah dibangun tangga semen sederhana yang memudahkan pejalan kaki. Apalagi di musim hujan.


Sambil mengobrol dan ambil video, tidak terasa kamipun tiba di telaga Biru Wopersnondi. Hal pertama yang saya lakukan adalah bengong. Gilak, indah banget ..! Berada tepat diantara rerimbunan pohon besar di tengah hutan, begitu memasuki kawasan ini, serasa masuk ke dalam negeri dongeng.


Tak berhenti sampai disitu, selain airnya yang berwarna biru. Air di telaga Wopersnondi ini sangat jernih, sehingga dapat melihat dengan jelas dahan dan ranting-ranting pohon yang menghiasi dasar telaga ini. Ahh indah sekali sejauh mata memandang.


Selain itu disekeliling telaga Wopersnondi sendiri sudah dibangun beberapa fasilitas. Seperti bangku untuk para pengunjung, Spot foto, juga tempat- tempat sampah.

Wopersnondi berasal dari bahasa Biak yang artinya melompat (Woper) dan Pria ( Snon). Konon, katanya dahulu di telaga ini banyak lelaki dari desa terdekat, desa Sepse, yang suka mandi dengan cara melompat. Maka Wopersnondi diartikan sebagai pria yang melompat.



Kami para volunteer pun tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Kami ambil beberapa foto bersama. Setelah itu langsung nyebur dong. Hehehhee. Airnya segar banget, bahkan sampe ada beberapa temen yang kedinginan. Hahaha. Kalo aku karena udah terbiasa mandi air gunung, jadi airnya yang ga terasa dingin banget. Hehehee.



Oiya, selain kami ada juga rombongan lain loh, jadi memang telaga biru Wopersnondi ini jadi tempat wisata favorit warga Samares, meski kadang untuk pergi ke sini, mereka harus rela berjalan kaki berjam-jam karena belum ada transportasi yang memadai. Jika beruntung warga bisa menumpang pada wisatawan yang datang dengan mobil.



Tak terasa hari sudah sore, maka kami harus segera kembali ke kota Biak. Mengingat kami masih harus jalan kaki. Hahaha. Kamipun pulang bak anak gunung turun gunung, capek banget, tapi semua itu terasa menyenangkan karena dijalani bersama anak-anak Samares yang bersemangat. Masak iya aku kalah sama mereka yang bisa jalan berjam-jam.


Akhirnya kami sampai di pos tempat mobil diparkir. Wahh saatnya kami harus berpisah, sebelumnya kami menyempatkan diri untuk berfoto. Sesudah itu kami kembali ke kota dengan mobil bak terbuka, dan lagi-lagi kami basah kering selama perjalanan. Wahhh perjalanan panjang yang tidak akan terlupakan.

Demikian cerita aku join kegiatan Teaching and Traveling #18 yang diadakan di SDN Samares, Pantai Samares dan juga Telaga Biru Wopersnondi. Aku sangat bersyukur bisa join kegiatan ini sebagai volunteer. Ya semoga next bisa join lagi kegiatan ini.




Buat teman-teman yang mau join, bisa banget loh, baik sebagai volunteers maupun memberikan bantuan donasi untuk anak-anak di Biak. Untuk keterangan lebih lanjut bisa liat IG nya di 1000_guru_papua_biak.


Dan yang paling bikin sedih adalah, ketika kami sudah tiba di desa tempat kami mengajar, anak-anak di depan rumah mereka melambaikan tangan kepada kami yang ada di mobil melepaskan kepergian kami dengan senyuman tulus bahagia. Entah kenapa tiba-tiba hati saya trenyuh! Sungguh sebuah pengalaman yang akan selalu saya kenang.

Percayalah sekali ke Biak, maka  pasti ingin kembali lagi. Maka wajar saja singkatan dari Biak adalah, Bila Ingat Akan Kembali.))

Happy Reading Segerakan Traveling! 

With Love, 

MRS

Yukk tonton videonya... 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai Guys, 
What's Up! 




Lanjutin cerita tentang kegiatan aku join kegiatan teaching and Traveling di SDN Samares, Biak yuk guys. Biar nyambung ma kisah sebelumnya baca dulu yang hari pertama waktu ngajar di SDN Samares ya guys.

Nah setelah malam selesai perkenalan dan lebih akrab satu sama lain, pagi hari kami, yaitu hari minggu. Sebagian volunteers sudah bangun dan sedang membersihkan sekolahan dan ada yang sedang memasak. Sedikit malu sih aku, soalnya bangun paling siang. Mungkin karena capek setelah menempuh perjalanan panjang dan langsung beraktivitas seharian full di hari pertama. *alasan banget ga sih ini.. xixixixixi.


Di hari kedua kegiatan kami adalah Traveling. Menuju wisata Biak yang sangat unik, pantai Samares dan telaga biru Wopersnondi. Namun, sebelum menuju ke sana, aku dan teman yang beragama Kristen, pergi ibadah di gereja yang ga jauh dari sekolah.


Awalnya udah mau ikut acara sekolah minggu, eh karena harus beberes dan siap-siap jadi ga sempet deh. Jam 9 pagi aku dan 4 teman lainnya, Eva, Nando, Om Heto, dan Vivi pun pergi ke gereja. Kami juga agak terlambat. Hadeuhh..


Di ibadah kali ini kami mempersembahkan satu buat pujian. Ya seadanya tanpa musik. Hehehee. Oiya, bahas dikit tentang suasana ibadah di gereja ini ya, jadi ibadahnya berjalan dengan sangat tenang, saking tenangnya suara perut aku yang kelaparan aja sampai terdengar loh. Parah sih gereja ini, padahal ga pake musik sama sekali, tapi kusyuk banget ibadahnya. Terbaik deh, dan aku belajar untuk lebih bersyukur dan sungguh-sungguh dalam beribadah. Secara mereka yang ga pake musik aja nyanyi dengan semangat masak aku yang udah diiringi musik, nyanyi masih males2an.

Tidak lama kembali dari gereja, kami pun berangkat menuju pantai Samares. Lagi-lagi naik mobil bak terbuka milik TNI. Sebelum pergi kami memastikan semua barang sudah dipacking.  Karena kami nanti langsung kembali ke kota.


Mobilpun mulai melaju, ketika melewati rumah warga, ada beberapa anak dan warga yang menumpang ikut. Pantai Samares ini memang jadi tempat wisata favorit bagi warga Samares.


Perjalanan pun dimulai, melewati padang belantara, angin sejuk menyapa kami para volunteers. Tak lama, langit yang memang sedang mendungpun mencurahkan airnya. Udah nyoba nutupin diri biar ga kena angin hujan, tetep aja basah. Secara mobil kami terbuka, ya udah pasrah aja basah kuyup. Wkwkwkw.


Ga berhenti sampai di situ, ketika sudah mau sampai tujuan, kami terpaksa harus turun dan berjalan kaki di tengah gerimis. Kenapa? Karena kontur jalan yang naik turun dan sangat curam, sedangkan mesin mobil tidak sanggup menahan beban, maka untuk amannya, jalan kaki adalah pilihan yang terbaik!




Gokil sih ini, capek tapi seru. Awalnya sih masih semangat ya, hujan2an mengenang masa kecil, lama ga sampe-sampe kog adek lelah juga.. Wkwkw. Kaki aku sampe lemes banget. Kalo nanjak sih masih mending, susah itu pas turunan dan jalanan licin, jadi harus hati-hati banget.



Puji Tuhan, akhirnya kami sampai juga. Rasa capek seketika hilang pas injekin kaki di pasir pantai Samares yang lembut banget. Wowww. Ya meskipun masih gerimis ya, tapi aku seneng banget liat pantai Samares yang indah.




Volunteers pun diarahkan panitia untuk berbaris dan membagi tim. Ya kalau hari pertama para volunteers yang mengajak adik-adik sekalian bermain, maka kali ini volunteers yang diajak bermain oleh panitia. Ya bener sih, hidup harus seimbang ya, ada saat mengajar dan ada saat diajar.




Setelah volunteers dibagi jadi 2 tim, permainan pun dimulai. Gokil sihh ini, kakak-kakak volunteers banyak yang curang. Hahahaa. Sayangnya, tim aku kalah. Wkkwww.

Selesai permainan, kamipun kembali menikmati pantai. Berlari, berenang, dan foto-foto. Aku pribadi sih seneng banget sama pantai Samares, airnya berombak jadi seri buat mainan. Hehehee


Puas bermain kamipun makan bekal yang kami masak tadi pagi. Lalu kamipun bergegas menuju telaga Wopersnondi yang jaraknya tidak jauh dari pantai Samares. Jadi telaga Wopersnondi itu ada di tengah hutan. Woww penasaran dong, ikuti kelanjutannya di part ke 3 ya guys.

Happy Reading, Segerakan Traveling!

With Love, 

(MRS)

Yang penasaran videonya klik langsung aja video 👇🙏





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Kubbu

Kubbu Network

http://kubbu.net/

https://kubbu.net/wp-content/uploads/2019/06/logo-kubbu-komunitas-blogger-dan-buku-300x225.jpg

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Agustus 2021 (1)
  • Juni 2021 (1)
  • Maret 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Oktober 2020 (30)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (3)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (4)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (4)
  • Juni 2019 (5)
  • Mei 2019 (4)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (5)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (4)
  • November 2018 (3)
  • Oktober 2018 (2)
  • September 2018 (2)
  • Agustus 2018 (3)
  • Juli 2018 (4)
  • Juni 2018 (3)
  • Mei 2018 (3)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (8)
  • Februari 2018 (2)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (11)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (4)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (8)
  • Juli 2017 (4)
  • Juni 2017 (2)

Created with by ThemeXpose