• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku
Hai Guys,
What's Up!


Kali ini aku mau cerita tentang Goa yang ada di Cirebon. Namanya goa Sunyaragi. Perjalanan ini masih dalam rangkaian one day trip ke Cirebon bersama backpacker Jakarta (BPJ).

Waktu itu sore sudah menyapa. Sinar matahari mulai bersiap kembali ke peraduannya. Tapi jangan salah goa ini justru kebanjiran pengunjung. Ada begitu banyak orang di tempat ini.


Setelah melewati pintu masuk, saya dan rombongan terlebih dahulu berfoto di depan tulisan "Goa Sunyaragi". Mumpung cahaya masih bagus. Puas foto keluarga bersama kamipun berpisah masing-masing untuk mengelilingi goa yang katanya merupakan salah satu jejak sejarah kerajaan Cirebon.


Goa Sunyaragi ini berada di kelurahan Sunyaragi, kesambi, kota Cirebon. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota, jadi tidak heran banyak orang yang menjadikan goa ini salah satu tempat wajib kunjung jika bermain ke Cirebon. Goa yang namanya berasal dari bahasa sansekerta "sunya" yang berarti sunyi/sepi dan kata "ragi" yang berarti raga ini, nyatanya sudah tak sesunyi dulu lagi.


Ya tujuan utama gua ini dahulu didirikan memang untuk tempat menyepi atau untuk bertapa para sultan dan keluarganya.


Lain dulu lain sekarang. Saat ini banyak sekali pengunjung yang datang untuk berjalan jalan dan cari spot terbaik untuk foto. Memang reruntuhan kaya dari goa ini menjadi daya tarik tersendiri. Terkesan unik dan mistis.



Begitupun dengan saya dan Afgan, kami mengelilingi tempat ini sambil berhenti untuk foto di setiap spot. Hahahaa.



Happy Reading Segerakan Traveling!

With Love,
MRS

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Hai Guys,
What's Up!

Kalau di postingan sebelumnya aku bahas tentang danau hati besar Karawapop, maka kali ini aku akan bahas danau cinta versi mininya, yaitu danau love kecil atau biasa di sebut Dafalen.


Berbeda dengan danau Karawapop yang bisa di daki melalui tangga, untuk menuju puncak demi melihat danau hati kecil ini maka trek yang akan didaki lebih berat. Memang ada tangga kayu tersedia, tapi jarak antar tangganya itu jauh banget kayaknya dibuat standar panjangnya kaki bule. Apadaya kaki saya yang pendek ini. Jadi tinggi satu anak buah tangga itu hampir setengah tinggi badan saya, nah loh kebayang dong perjuangannya.


Selain itu di beberapa titik, tangga kayunya udah mulai rusak bahkan hampir tak bersisa. Beneran dehh harus hati-hati banget pas daki bukit ini.

Diperlukan sekitar 20 menit untuk sampai puncak, memang gak terlalu tinggi, tapi rutenya yang terjal dan miring banget yang bikin agak merinding.

Sesampainya di puncak, langit yang dari tadi mendungpun mulai mengeluarkan rintiknya. Ya ampun, baru juga sampai puncak. Langsung deh saya dan teman giliran untuk berfoto ala kadarnya. Yang penting ada bukti udah pernah ke puncak ini. Hehehehe

Selain permukaan air yang menunjukkan view berbentuk hati, di sisi lain kita bisa melihat indahnya gugusan bukit dengan air hijau toscanya. Sayang langit sudah sangat mendung. Jadi gak keliatan jelas keindahannya.



Guyuran hujan semakin deras, gak ada tempat berteduh untuk berfotopun udah gak memungkinkan. Ada teman-teman saya yang langsung turun, sedangkan saya memilih untuk berteduh. Ehh ternyata hujan gak kunjung reda. Mau gak mau turun deh.

Waktu turun jadi lebih susah, karena kami harus ekstra hati-hati. Duhhh pokoknya udah berasa kayak anak gunung terjebak hujan deh. Biar aman kami memilih pelan yang penting selamat. Lagian udah basah ini.

Akhirnya kami tiba di dermaga kembali. Ada teman-teman yang masih berfoto juga. Kayaknya sih karena kurang puas foto di atas. Hehehe.

Demikianpun dengan saya. Bayangin aja, kami mendaki sekitar 20 menit, ehh di puncak gak sampai 5 menit. Hemmm semoga ada rejeki lebih biar bisa balik lagi ke sini. Amin.

Happy Reading Segerakan Traveling!

With Love,

MRS



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai Guys, 
What's Up! 




Nyanyi bareng dulu yokk...

Begitu banyaknya pulau yang indah,
Inilah Papuaku uuu
Permata hijau laut dan seninya
Begitu menyenangkan jiwa

Banyak pujian dan kekaguman
Budaya dan alammu uu
Kamu dan aku sama-sama cinta
Cinta padamu Papuaku

Tiada yang lebih membanggakan jiwa
Hanyalah Papuaku uu
Senyuman tulis dan penuh cinta
Sungguh menyentuh sanubari

Harumkan... Indonesia
Dari... Sini
Satu kan... Tujuan...
Dalam.... Cinta

Cobalah menjaga kan sudah semestinya dijaga
Papuaku tercinta biarkan alamnya terus indah.

Lirik di atas adalah sebagian lirik dari lagu " Papua dalam Cinta" yang dinyanyikan oleh Pay ft Soa-soa. Asli dehh liriknya beneran menggambarkan keadaan Papua yang bagusnya... WAHGELASEHH.. which is gue sebenernya bingung harus ngungkapinnya pake kalimat apa.

Jadi aku mau ngasih tahu tentang satu wisata yang menurut aku indah banget. Karya Tuhan yang luar biasa yang di titipkan di Tanah pace mace ini. Saking cantiknya bikin speechless..

Jadi namanya adalah Danau Karawapop, atau biasa dikenal sebagai danau cinta. Danau ini berada di kawasan geosite Karawapop. Danau yang jika dilihat dari ketinggian berbentuk seperti hati ini adalah danau alami. Berbentuk seperti hati karena warna air yang berbeda yang membentuk hati. Ajaib banget kan!


Sesuai namanya, kawasan Raja Ampat itu terbagi menjadi empat bagian pulau besar. Yaitu dengan Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo. Nah di Misool lah kita bisa melihat danau cantik ini.

Katanya, danau ini dulunya ditemukan oleh wisatawan asing yang sedang menjelajahi pulau-pulau kecil di Misool. Iya sih kalau bule biasanya liburan sampai berbulan-bulan lah kita bisa liburan seminggu aja udah syukur banget.


Danau Karawapop ini masih dikelola perorangan ya, belum dikelola pemerintah setempat. Jadi untuk bisa melihat danau ini, kita harus ijin dulu dengan ama pemiliknya yang ada di kampung Yellu. Nanti bakalan dikasih kunci untuk bisa masuk ke dalam kawasan ini.



Harganya sendiri 70 ribu untuk wisatawan lokal dan 75 ribu untuk wisatawan asing. Serius ini kenapa perbandingannya murah banget ya, harusnya untuk wisatawan asing bisalah dua kali lipat. Kita keluar negeri aja susah. Hehehe.



Di bagian pintu masuk sudah tersedia dermaga, gazebo dan loket masuk. Sesudah membayar kita baru bisa masuk. Selanjutnya kita harus menaiki tangga yang sudah dibangun selama sekitar 30 menit. Tenang, 30 menit engap campur happy kog, soalnya udaranya segar dan di beberapa anak tangga udah ada spot untuk istirahat. Jadi gak perlu kuatir.



Sesampainya di atas, ada dua spot yang tersedia. Spot pertama sudah dibangun ruangan dari kayu yang memudahkan untuk mengabadikan bentuk hati danau Karawapop. Untuk yang mau lebih natural, maka bisa berfoto di atas bebatuan karang, tapi ya itu kudu hati-hati banget karena langsung berhadapan dengan jurang.



Selain bisa melihat view danau berbentuk hati dari atas kita bisa juga lihat dermaga tempat pemberhentian kita, nanti langsung takjub, wahh ternyata aku naik setinggi itu ya. Hehehee.



Oiya, jangan lupa pake sunblock dan bawa air minum ya karena belum ada warung di atas. Terus harus mau antre untuk berfoto. Selain itu cukup sadar untuk gak ambil foto terlalu lama karena banyak yang antre sedangkan tempat untuk berdiri juga terbatas, jadi biasakan peka dengan keadaan sekitar ya guys. Satu lagi, jangan buang sampah sembarangan dan selalu jaga fasilitas yang ada ya guys. Jadi keberadaan danau ini selalu terjaga.


My random opinion

Setelah liat danau ini awalnya aku berpikir, kalau Tuhan tepat banget ngedesain danau ini di tanah Papua, jadi tanah Papua punya daya tarik wisata yang membuat para pengunjung datang. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, kayaknya bukan karena itu dehh, tapi lebih kepada karena Tuhan tahu, keberadaan danau cinta ini menunjukkan identitas warga Papua yang penuh akan cinta kasih dan pasti akan menjaga danau ini dengan sepenuh hati. Duhhh bisa dibilang danau Karawapop menjadi simbol cinta Tuhan kepada tanah Papua.

God Bless Papua! 

Happy reading Segerakan Traveling!

With Love, 

MRS 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai Guys, 
What's Up! 



Kali ini saya mau bercerita tentang perjalanan saya, mendaki gunung pertama di usia 30. Cerita sedikit, sebenarnya saya lebih suka pantai ketimbang gunung. Kenapa? Ya karena gak perlu repot dan capek untuk dikunjungi. Hehehe. Namun, Indonesia kan terkenal juga akan gunung-gunung indahnya, so mumpung masih bisa nanjak, maka saya mulai melirik wisata gunung. Katanya, gunung Prau adalah gunung yang cocok untuk pemula. Jadilah gunung Prau pilihan pertama saya.

Pendakian gunung Prau saya lakukan tanggal 26-27 Oktober 2019 bersama dengan empat teman saya, yaitu Mawar, kembaran saya, Om Eka, Uli dan Silo, teman yang baru kenal. Mereka berempat berangkat dari Jakarta, sedangkan saya sendiri yang berangkat dari Purbalingga.

BERANGKAT...

Sabtu pagi, diantar kakak, saya tiba di Terminal Purbalingga pukul 5:40 pagi. Sebenarnya saya masih bingung harus naik bis yang mana, syukurnya ada bapak tukang becak yang memberi tahu saya bis yang bisa saya naiki menuju terminal Mendolo, Wonosobo. Ternyata, bukan hanya saya sendiri. Bis yang saya tumpangi didominasi pemuda pemuda pembawa ransel juga. Jadi saya yakin saya enggak salah naik bis. Hehehee.

Bis AC yang saya naiki pun mulai melaju, tak lama kernet meminta ongkos sebesar 50 ribu rupiah. Sembari membayar saya bertanya, saya harus turun dimana kalau mau ke Dieng, dan si kernet menjelaskan agar saya turun saja di pertigaan yang saya lupa namanya. Hehehe. Berhubung belum paham saya minta tolong kernetnya untuk memberhentikan saya ditempat yang dimaksud dan syukurnya sang kernet baik hati mengiyakan.

Menurut saya bis melaju dengan lambat, karena sering berhenti untuk mengambil penumpang. Saya yang mabokan naik bis pun berusaha tidur agar tidak mual. Kurang lebih 2,5 jam akhirnya kernet memberitahu saya untuk siap-siap. Lalu saya pun diturunkan di lokasi yang dimaksud.

BERTEMU... 

Setelah turun saya pun langsung menelpon rombongan teman yang lain, ternyata mereka masih sarapan di Terminal Mendolo. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya rombongan saya menjemput saya dengan mobil.

Lalu kami pun menuju Dieng, lagi-lagi karena mual saya berusaha untuk tidur. Tapi hal itu susah terwujud, karena bapak sopir mengemudi layaknya Vin Diesel di film fast furious, alias ngebut dan menegangkan. Hahahaa. Pokoknya udah kayak arena balapan aja deh. Syukurnya saya enggak muntah. Hehehe.

Sekitar 40 menit kemudian akhirnya kami tiba di Basecamp Banteng Patak, lalu kamu menuju rumah pak Yadi. Jadi pak Yadi ini yang sudah kami kontak untuk mengatur dan mengantar kami mendaki Gunung Prau.

TIBA... 

Di rumah pak Yadi yang digunakan sebagai basecamp inilah kami berbenah dan membereskan apa yang hendak dibawa. Lalu sekitar pukul 1 siang, kami mulai akan mendaki. Pas udah mulai menuju jalur pendakian, ehh pak Yadi menginformasikan kalau dari basecamp menuju pos 1 itu tersedia ojek dengan biaya 15 ribu. Naik ojek sangat efektif karena sudah bisa menghemat waktu dan tenaga berjalan selama 20 menit. Tanpa pikir panjang kami langsung memilih alternatif ojek sebagai pembuka pendakian kami. Hahahaha. Ini sih memang pendaki yang enggak mau susah. Wkwkwk. Ya saya pikir itu cukup murah dan bisa membantu perekonomian masyarakat setempat, jadi kenapa enggak? *alasan banget, padahal karena enggak mau jalan jauh aja. Hahaha.

PENDAKIAN... 

Jadilah kami tiba-tiba.. cling, udah sampe di post 1 aja.. Hahahaa, ajaib banget! Cuma butuh waktu sekitar 5 menit kami udah sampe pos 1. Bener-bener gak salah pilih. Lanjut dari post 1 menuju post 2 kami berjalan sekitar 30 menit-an dengan jalur agak menanjak, tapi gak nanjak-nanjak banget sih. Cuma cukup menguras tenaga, bahkan saya sempet terjerembap jatuh akibat kurang hati-hati ketika mengambil video.

Lalu tibalah kami di warung terakhir di post 2. Kami makan buah dan gorengan, terus istirahat hampir 30 menit sendiri. Bayangin, sebenernya kami niat naik gunung enggak sih ini. Wkwkwkwk


Akhirnya rute dari post 2 menuju post 3 kami beneran mendaki. Jalurnya naik terus gak ada landainya. Wahh baru kerasa anak gunungnya. Di sinilah mental mulai diadu. Nehh bahasanya. Saya sendiri mulai ngeluh dan berasa mulai nyesel kenapa pula harus ikut naik gunung. Tapi setiap perasaan itu muncul, maka saya langsung bilang pada diri sendiri, "tenang, aku pasti bisa! gak usah buru-buru puncaknya gak bakalan pindah".


Syukurnya saya dan teman yang lain juga selow aja jalannya, udah gitu pak Yadi sabar banget nemenin dan motretin kami tiap ada spot ketjeh untuk foto. Padahal pak Yadi sambil bawa keril yang gedenya udah kaya orang diusir dari rumah. Oiya, salah satu tips kalau capek daki, banyakin aja foto-foto pasti nanti gak kerasa capeknya, tapi ya itu gak bakalan sampe-sampe. Wkwkwkw.



Setelah perjuangan panjang dan kaki terus dipaksa nanjak, akhirnya kami tiba di pos 3 atau yang biasa disebut pos cacingan. Jangan tanya kenapa namanya begitu ya. Yang pasti istirahat sejenak di sini itu rasanya adem banget kayak liatin muka gebetan. Dikelilingi pepohonan rindang, cocok banget untuk duduk sejenak melepas penat. Saya lihat ada yang mendirikan tenda di sini. Jadi mungkin biar gak bawa barang banyak pas summit jadi nendanya di pos 3.



Kalau lihat jalur trek yang harus saya lalui, maka saya rasa wajar kalau gunung Prau ini dijadikan gunung pemula bagi para pendaki. Jadi jalurnya itu nanjak terus. Cuma enggak terlalu jauh karena tingginya yang 2565 mdpl.


Lagi capek-capek nanjak langit pun menggelap, kabut mulai menutup perjalanan, rintik hujan mulai menyapa. Udah dramatis belum? Hehehe, syukurnya kami pun berhasil tiba di post bayangan, dimana sinyal berada, yaitu post pelawangan. Kalau kalian udah baca tulisan ini berarti, selamat anda sudah hampir tiba. Ueaayae.

Lalu dengan sisa-sisa tenaga yang ada akhirnya kami tiba di area camp diiringi deras hujan yang berjatuhan kami berjalan cepat menuju tenda. Untungnya kami menggunakan jasa private open trip, begitu sampai kami langsung bisa masuk tenda. Hahahaa. Awalnya, biayanya sebesar 300/pax utk 6 orang, tapi tiba-tiba satu teman kami berhalangan hadir, jadinya kami kena biaya tambahan 300/ 5 orang. Tapi saya rasa jumlah itu sesuai dengan fasilitas yang kami dapat. Yaitu, mobil antar jemput terminal Mendolo-Basecamp Patak Banteng, tenda, makan 2 kali, toilet portable, dan kami hanya membawa barang pribadi saja. Udah gitu pak Yadi sebagai guide nya juga sangat ramah dan lucu. Affordable banget lah harganya.

AREA CAMP... 

Sesudah hujan reda kami berfoto sejenak ala megang cangkir di depan tenda orang lain dengan background kabut di belakang. Lalu kami berlima berkumpul dan bermain games yang menceritakan aib kami masing-masing. Untuk sesi ini gak usah saya perjelas ya, intinya kami jadi lebih tahu rahasia satu sama lain. Hahaha. Lagi asik main, ehh dianterin makanan enak berupa nugget, sop dan telur goreng. Ya ampun lagi-lagi saya mikir ini kami beneran anak gunung bukan sih. Hehehehe


Setelah kenyang jadinya ngantuk, jugaan badan udah capek banget, jadi kami memutuskan untuk tidur. Maksud hati tidur nyenyak namun apadaya harus bolak balik terbangun karena udara yang cukup dingin. Selain itu ada rombongan lain yang menyalakan musik dengan sangat keras. Malam itu gunung bak club malam. Berisik!! Hadeuhh please banget buat teman-teman yang suka naik gunung atau ada wacana naik gunung, jangan ditiru kelakuan begini. Itu mengganggu banget sih, sayang aja enggak ada petugas patrolinya, kalau ada pasti suruh matiin deh musiknya.

Tidur dengan keadaan tak nyenyak dengan segala rintanganya membuat waktu berjalan sangat cepat, eh tiba-tiba udah jam 04:30 pagi, ngintip keluar tenda dan langit udah keliatan cerah dengan warna oranye. Masih ngantuk tapi masak jauh-jauh cuma buat tiduran doang, akhirnya saya dan kembaran sepakat untuk bangun dan keluar tenda. Iyalah kalau tidur mah bisa kapan aja, tapi kalau lihat sunrise di gunung kan jarang-jarang. Pemikiran itu yang bikin kami semangat bangun. Hehehehe.

SUNRISE HUNTING... 

Selain kami teman kami yang lain juga udah pada bangun. Jadilah kami berlima pergi untuk menuju spot yang kami inginkan. Udara cukup dingin, tapi karena jalan nanjak menuju spot selanjutnya, udara dingin perlahan menghilang.


Mulailah kami berfoto di sana sini dan ambil video. Menangkap moment matahari terbit dibalik gunung. Selain kami sudah ada ratusan sunrise hunter lainnya. Wahh ternyata begini ya rasanya berburu pagi bersama ratusan orang. Hehehe. Oiya, hal penting yang harus kita ingat, seheboh apapun kita mau mengabadikan keindahan dan moment di gunung, usahakan tetap tertib dan menjaga kelestarian alam sekitar ya guys. Misalnya jalan sesuai trek, enggak metikin tanaman yang ada dan jangan sampai buang sampah sembarangan. Biar alam kita selalu terjaga keberadaannya. Oke?


Setelah hampir 2 jam berkeliling dan foto sana sini sembari menikmati udara segar, kamipun sepakat untuk kembali ke tenda. Kami yang awalnya mau pulang lewat jalur dieng Kulon, akhirnya memutuskan untuk tetap kembali via patak banteng. Selesai sarapan dan packing, kamipun persiapan turun. Sebelumnya kami menyempatkan diri foto di depan plang dengan tulisan 2565 mdpl. Ini Wajib banget sihh katanya. Hehehe.



TURUN... 

Kami turun jam 8:30 pagi, kalau pas berangkat kami harus nanjak, sekarang kami harus menuruni jalan. Saya pribadi merasa lebih capek dan kudu ekstra hati-hati. Karena harus kuat menahan tubuh yang bertumpu pada kaki saja. Walaupun capek tapi pulangnya terasa lebih cepat. Jadi sekitar 10:30 pagi kami udah sampe basecamp rumahnya pak Yadi lagi. Dengan catatan istirahat selama 30 menit di warung pos 2 dan naik ojek lagi dari pos 1 menuju basecamp. Hehehehee.



Lalu sesampainya di Basecamp pak Yadi, kami kembali beberes. Lalu selesai beberes kami mampir untuk membeli oleh-oleh. Selanjutnya kami diantar kembali ke terminal Mendolo, setelah sebelumnya kami makan sore di rumah makan yang terkenal akan mie ongkloknya. Sesampainya di terminal kamipun berpisah.


PULANG... 

Saya mencari bus menuju Purbalingga. Kali ini bis ekonomi kecil, dengan ongkos 25 ribu, maka 2,5 jam kemudian saya sudah tiba kembali di terminal Purbalingga dan sudah ditunggu kakak saya. Welcome home!

Perjalanan ini sangat singkat, cuma sabtu minggu tapi sangat menyenangkan, capek sihh tapi sebanding dengan pengalaman yang saya dapatkan. Pantas saja orang pada suka naik gunung, saya aja udah semangat pengen naik gunung lagi, walaupun dua hari kemudian kaki saya sakit banget sampe gak kuat jalan. Hahahhaa. Duhh naik gunung apa nih selanjutnya.


HAPPY READING SEGERAKAN TRAVELING! 

WITH LOVE, 

MRS





Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Hai Guys, 
What's Up! 

"Investment in Travel is an investment in Yourself" - Matthew Karsten-





Kali ini aku mau kilas balik liburan aku ke Pacitan, Jawa Timur yang aku laksanakan pada bulan Oktober 2018 udah lama banget ya. Ya gitu deh suka anget-angetan kalo nulis. So biar ada kenangan, aku jadiin satu cerita langsung deh sekarang. Hehehe.

Pacitan sendiri dari dulu sudah terkenal dengan wisata Goa Gong-nya. Desa kelahiran Presiden SBY ini ternyata punya banyak tempat wisata menarik. Jadi sebenernya dua hari itu gak cukup buat bisa eksplor semua tempat. Nah berikut destinasi yang bisa kamu kunjungi kalau punya waktu yang terbatas di Pacitan.

1. PANTAI BANYUTIBO

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah pantai Banyutibo. Sesuai dengan namanya, "banyu" yang berarti air dan "tibo" yang berarti jatuh ini menggambarkan air terjun yang bermuara ke pantai langsung. Unik banget ya, jarang-jarang dong bisa liat air terjun yang biasanya ada di pegunungan eh ini justru bermuara ke lautan.



Dari kejauhan air terjun yang jatuh ke pasir pantai ini keliatan bagus banget. Langsung dehh pengen nyebur karena pasti praktis banget abis mandi air asin bisa langsung bilas di air tawar. Hehehe. Cuma ini sekedar angan aja, karena aku enggak bawa baju ganti yang cukup.



Dari atas tebing menuju tepi pantai, kita harus menuruni tangga, karena memang lokasinya berada di dalam tebing. Begitu menginjakkan kaki di pasir, wah terasa sangat lembut. Pasirnya berwarna kecoklatan ditemani ombak kecil yang berkejaran. Seru banget deh.

2. PANTAI KLAYAR

Destinasi selanjutnya adalah pantai Klayar. Aslik, mungkin ini pantai terbesar yang pernah aku lihat. Bayangin aja saking luasnya dari tempat parkir menuju pantai utama, aku harus naik ojek. Ya sebenernya bisa aja jalan, tapi jauh banget. Mana pas sampe sini cuacanya panas banget. Jadi ojek adalah pilihan yang sangat tepat, itung itung bantu warga sekitar juga.



Nama pantai Klayar konon berasal dari sebuah kapal yang terombang ambing atau dalam bahasa setempat disebut "Glayar". Pantai ini sendiri bisa dikategorikan dalam tiga Spot. Jadi spot pertama didominasi lautan yang tenang. Disebelahnya lautan yang 'garang' karena dipenuhi ombak besar dan spot semburan mata air. Dimana adanya mata air yang mencuat dari antara belahan batu tebing.


Kalau masih kuat berjalan di bagian atasnya lagi, maka dari ketinggian pantai Klayar ini terlihat seperti bentuk 'love' dengan perbedaan warna airnya saja. Selain itu ada cara yang lebih mudah mengelilingi pantai yang luas ini yaitu dengan naik ATV.

3. GOA GONG

Siapa tidak kenal Goa Gong? Goa yang terkenal karena menghasilkan suara indah ini sudah menjadi bucketlist aku sejak lama. Akhirnya bisa lihat langsung dengan mata kepala sendiri. Wahh senang banget!


Untuk memasuki Goa Gong, cukup membayar tike masuk sebesar 15rb rupiah. Jadi loket masuk kita masuk harus jalan sekitar 100 meter. Begitu tiba di mulut goa, kita masih harus mengantre, menunggu orang yang di dalam keluar. Memang sudah ada kapasitas tertentu dalam memasuki goa, hal ini dilakukan karena memang udara dalam goa tidak sebanyak diluar.


Rasa kagum dan takjub langsung mengeriap begitu memasuki goa Gong. Wah parah sih keren banget. Goanya ternyata sangat luas, padahal dari luar keliatan kecil. Selain itu atraksi warna warni lampu semakin mempercantik isi goa. Wah pokoknya harus liat sendiri deh.

4. PANTAI SRAU

Pantai Srau menjadi destinasi terakhir hari pertama perjalanan saya, ya pantai ini menjadi pilihan untuk mendirikan tenda. Malam harinya kalau masih kuat, bisa banget berburu milky-way, saya sendiri memilih tidur karena kecapekan. Hehehe



Esok paginya selesai berbenah diri maka melihat sunrise adalah kegiatan yang wajib dilakukan. Ada beberapa spot untuk menikmati sunrise di sini. Ada yang di tepi pantai atau dari atas bukit. Semuanya bagus, tinggal pilih kuat yang mana. Kalau saya sudah pasti cari tempat yang paling mudah dijangkau, pinggiran pantai. Hehehe

Nuansa pagi di pantai Srau sangat indah, pasir, ombak dan angin seolah menyambut kedatangan kami. Selain rombongan kami, ada juga rombongan lain yang menghabiskan waktunya di sini. Bahkan anak-anak asik berenang berlarian kesana kemari. Kalau orang dewasa mah udah pasti, foto sana foto sini.

5. KALI COKEL

Destinasi selanjutnya adalah kali Cokel. Jujur gak ada ekspektasi apapun akan tempat ini. Cuma bayangin main di kali, udah gitu doang. Ternyata di sini seru banget.


Jadi ada perahu yang bisa disewa dengan muatan empat orang ditemani dua awak. Nah perahu ini nantinya bakalan bawa penumpang menyusuri kali Cokel. Tapi sebelumnya, perahu akan dibawa menuju lautan dulu. Jadi posisi kali cokel ini memang berada di pinggiran laut jadi bisa langsung nyambung ke laut. Nah di laut ini kita bakalan tegang karena naik perahu kecil di ajak ke tengah lautan yang berombak besar. Wahh parah seru banget. Ya walau agak deg-deg an juga, tapi justru di situ sensasinya. Hehehe


Kelar diajak mainan ombak di laut, maka perahu akan diarahkan kembali menuju kali Cokel. Di sini suasana langsung tenang dan santai banget. Menyusuri kali Cokel yang dikelilingi pohon kelapa di sisi kanan kirinya membuat penumpang terlindung dari panas yang menyengat.

6. PANTAI KASAP

Destinasi selanjutnya adalah  pantai Kasap. Pantai yang disebut sebagai " Raja Ampatnya" Pacitan ini terletak tepat di samping kali Cokel. Jadi cukup berjalan mengikuti jalur yang sudah ditempeli penanda arah ke pantai Kasap.



Pantai Kasap juga memiliki beberapa spot. Yang paling terkenal adalah spot di atas tebing dengan view gugusan bukit di kejauhan. Untuk tiba di spot ini, kita harus mendaki selama kurang lebih 15 menit. Bawa air minum yang cukup karena cuacanya sangat panas.


Demikianlah destinasi yang wajib kamu kunjungi ketika liburan ke Pacitan dalam waktu dua hari. Paling enggak ini sudah cukup banget menghilangkan kepenatan yang ada.


HAPPY READING SEGERAKAN TRAVELING! 

With Love, 

MRS 



Share
Tweet
Pin
Share
55 komentar
Hai Guys,
What's Up! 

"I can leave the sea, but the Sea never leaves me" - anonym





Kali ini saya mau sharing tentang pengalaman saya Live On Board selama tiga hari di Labuan Bajo. Ya untuk yang mau menikmati keindahan pulau Flores, sailing selama 3 hari adalah pilihan yang sangat tepat. Bahkan terasa kurang bagi saya yang baru belajar snorkling kala itu. Perjalanan ini saya lakukan pada bulan Juni 2018. Bersama dengan teman teman yang baru lain yang dikoordinir oleh komunitas sharecost, Backpacker Jakarta. Biaya sharecost sebesar 1,3 juta sudah include semua. Kecuali tiket pesawat ke meeting point, bandara Komodo.



Sehari sebelum sailing saya sudah tiba di Labuan Bajo, tepatnya sore hari saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di Bandara Komodo. Wahh ada rasa haru karena akhirnya saya bisa tiba di sini. Keluar bandara saya naik ojek menuju pelabuhan. Di sini bertemu dengan, Kak Omed, selaku CP atau penanggung jawab selama trip berlangsung. Ternyata temen yang lain sudah menuju..

1. BUKIT SYLVIA

Untuk menantikan sunset. Perjalanan ke sini juga seru, saya naik ojek dan jalanannya berkelok-kelok dan berdebu. Sekitar 10 menit kemudian saya sudah tiba di bukit Sylvia. Ternyata nama bukit Sylvia diambil dari nama resort yang ada di sekitar bukit tersebut.

Bukit yang kering kecoklatan dengan view laut yang biru menjadi daya tarik destinasi pertama yang saya kunjungi ini. Well, akhirnya saya bisa menyaksikan secara langsung, rerumputan kering khas daerah timur Indonesia. Wah senang banget sih ini.

Pulang dari bukit Sylvia kami menuju penginapan yang berada tepat di depan pelabuhan. Selanjutnya kami makan seafood di jalan ujang, yang merupakan food center di Labuan Bajo. Ada banyak pilihan seafood segar dengan harga terjangkau di sini. Dijamin kenyang deh.

2. PULAU KELOR YANG CANTIK

Pulau Kelor ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dari pelabuhan utama di Labuan Bajo. Tenang selama 3 jam kita akan disuguhi pemandangan bebukitan kecemasan khas daerah timur.

Sesampainya di pulau Kelor maka dari jauh akan terlihat pulau kecil yang ber pasir putih. Pulau Kelor tidak terlalu luas. Nah hal utama yang bisa dilakukan di sini adalah mendaki bukit kecil dan melihat view ketjeh dari ketinggian.



Sebenarnya buktinya enggak terlalu tinggi, tapi cukup curam dan treknya gak terlalu jelas, jadi kudu ekstra hati-hati dakinya. Soalnya sebelahnya itu langsung lautan. Kalau aku sendiri juga cukup merasa takut sih, tapi selama kita waspada semuanya pasti berjalan dengan aman.

Oiya jangan lupa bawa air minum yang cukup karena trekking ke atas cukup menguras tenaga ditambah udara laut yang sangat panas.

3. PANTAI MANJARITE

Habis makan siang dan panas-Panas an di pulau Kelor maka snorkling adalah hal yang bisa kalian lakukan di pantai Manjarite.



Bawah lautnya cukup bagus bagi saya yang masih newbie dalam dunia selam menyelam. Bagi yang gak mau basah, bisa banget foto ala-ala di dermaga Manjarite dengan view cakepnya.

4. PULAU PADAR YANG KIAN BERKIBAR! 

Keesokan paginya kita bisa trekking sekitar 30 menit untuk menikmati sunrise di pulau Padar. Jalur trekking sudah dibangun sehingga memudahkan wisatawan untuk menuju puncak.



Pulau Padar bisa disebut sebagai top list kunjungan ke pulau Flores selain pulau Komodo. Pulau Padar terkenal akan tiga pulaunya yang ikonik. Pulau padar sudah menjadi tempat syuting banyak iklan. Maka tidak salah tempat ini selalu ramai dikunjungi baik wisatawan domestik maupun internasional.

5. PULAU KOMODO YANG BIKIN MELONGO! 

Ini dia yang paling ditunggu-tunggu bertemu makhluk purba ratusan tahun lalu, ya apalagi kalau bukan Komodo. Saya rasa sebagai orang Indonesia kita sangat beruntung karena kekhasan ini hanya dimiliki oleh Indonesia.




Begitu memasuki pulau Komodo kita bisa melihat komodo berkeliaran. Selain itu juga rusa dan hewan lainnya yang mungkin hanya bisa kita temui di pulau Komodo.

6. PANTAI PINK YANG MENAWAN

Pantai Pink juga menjadi andalan wisata pulau Flores. Pasir yang berwarna merah muda karena pecahan karang ini menjadi sangat unik dan istimewa.



Selain itu pantai pink juga memiliki wisata bawah laut yang sangat indah. Tapi anehnya walaupun udara sangat panas air di pantai pink ini sangat dingin. Penasaran kan? Hehehehe

Selain snorkeling kita juga bisa bermain floaties di sini. Panas-Panas an dengan view indah adalah daya tarik pantai pink.

7. GILI LAWA YANG GILAK! 

Kenapa saya bilang GILAK, soalnya di Gili lawa kita bisa menikmati view sunrise dan sunset sekaligus. Apalagi ada banyak rusa liar yang berkeliaran di tepi pantai. Kalau yang lain menganggap pulau Padar sebagai Ikon wisatanya pulau Flores, maka saya justru memilih Gili lawa  sebagai toplist wisata Flores. Hehehee.



Selain buat foto ala-ala, Gili lawa ini cocok banget jadi tempat buat prewedd dengan konsep yang sederhana tapi kesannya Woww!!



Ada banyak spot cantik di Gili lawa, pastikan memori kalian cukup untuk foto di setiap spot. Hehehe.


Sayangnya karena peristiwa kesalahan manusia untuk beberapa saat tempat ini harus ditutup untuk sementara waktu. Namun itu memang harus dilakukan sih, jadi gili lawa bisa rehat sejenak.

8. PULAU KANAWA 

Pulau Kanawa juga menyuguhkan pemandangan alam yang sangat indah. Airnya hijau kebiruan dengan lanskap bukit-bukit dari kejauhan.



Di pulau Kanawa kita bisa snorkeling. Ya pulau Flores memang surganya snorkeling! Jadi saya bahagia banget sebagai orang yang baru bisa snorkeling dan langsung disuguhi pemandangan bawah laut super cantik. Ikan ikan berwarna warni karang karang indah. Ahh surga pokoknya!

9. PASIR TIMBUL TAKA MAKASSAR

Terakhir ada pasir timbul. Pasir timbul ini biasanya muncul ketika pagi atau sore ketika air masih surut. Akan lebih jelas jika dilihat melalui drone. Enggak punya drone seperti saya maka snorkeling adalah pilihan yang tepat. Hehehe. Pokoknya puas banget di setiap spot kita bisa snorkeling terus.

Oiya foto ini saya memegang bintang laut biru, waktu itu saya belum tahu kalau bintang laut ternyata gak boleh dipegang. Jadi jangan dicontoh ya genks..



Sebenarnya, makin tahun makin banyak destinasi baru yang bisa dieksplor di pulau Flores ini. Tapi paling enggak destinasi ini juga udah lebih dari cukup untuk mewakili kecantikan pulau Flores. Demikianlah destinasi wajib kamu kunjungi ketika LOB di Flores..

Happy Reading Segerakan Traveling! 

With Love, 

MRS 



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Kubbu

Kubbu Network

http://kubbu.net/

https://kubbu.net/wp-content/uploads/2019/06/logo-kubbu-komunitas-blogger-dan-buku-300x225.jpg

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Agustus 2021 (1)
  • Juni 2021 (1)
  • Maret 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Oktober 2020 (30)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (3)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (4)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (4)
  • Juni 2019 (5)
  • Mei 2019 (4)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (5)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (4)
  • November 2018 (3)
  • Oktober 2018 (2)
  • September 2018 (2)
  • Agustus 2018 (3)
  • Juli 2018 (4)
  • Juni 2018 (3)
  • Mei 2018 (3)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (8)
  • Februari 2018 (2)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (11)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (4)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (8)
  • Juli 2017 (4)
  • Juni 2017 (2)

Created with by ThemeXpose