• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku
Hai Guys, 
What's Up! 



Kali ini saya mau bercerita tentang perjalanan saya, mendaki gunung pertama di usia 30. Cerita sedikit, sebenarnya saya lebih suka pantai ketimbang gunung. Kenapa? Ya karena gak perlu repot dan capek untuk dikunjungi. Hehehe. Namun, Indonesia kan terkenal juga akan gunung-gunung indahnya, so mumpung masih bisa nanjak, maka saya mulai melirik wisata gunung. Katanya, gunung Prau adalah gunung yang cocok untuk pemula. Jadilah gunung Prau pilihan pertama saya.

Pendakian gunung Prau saya lakukan tanggal 26-27 Oktober 2019 bersama dengan empat teman saya, yaitu Mawar, kembaran saya, Om Eka, Uli dan Silo, teman yang baru kenal. Mereka berempat berangkat dari Jakarta, sedangkan saya sendiri yang berangkat dari Purbalingga.

BERANGKAT...

Sabtu pagi, diantar kakak, saya tiba di Terminal Purbalingga pukul 5:40 pagi. Sebenarnya saya masih bingung harus naik bis yang mana, syukurnya ada bapak tukang becak yang memberi tahu saya bis yang bisa saya naiki menuju terminal Mendolo, Wonosobo. Ternyata, bukan hanya saya sendiri. Bis yang saya tumpangi didominasi pemuda pemuda pembawa ransel juga. Jadi saya yakin saya enggak salah naik bis. Hehehee.

Bis AC yang saya naiki pun mulai melaju, tak lama kernet meminta ongkos sebesar 50 ribu rupiah. Sembari membayar saya bertanya, saya harus turun dimana kalau mau ke Dieng, dan si kernet menjelaskan agar saya turun saja di pertigaan yang saya lupa namanya. Hehehe. Berhubung belum paham saya minta tolong kernetnya untuk memberhentikan saya ditempat yang dimaksud dan syukurnya sang kernet baik hati mengiyakan.

Menurut saya bis melaju dengan lambat, karena sering berhenti untuk mengambil penumpang. Saya yang mabokan naik bis pun berusaha tidur agar tidak mual. Kurang lebih 2,5 jam akhirnya kernet memberitahu saya untuk siap-siap. Lalu saya pun diturunkan di lokasi yang dimaksud.

BERTEMU... 

Setelah turun saya pun langsung menelpon rombongan teman yang lain, ternyata mereka masih sarapan di Terminal Mendolo. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya rombongan saya menjemput saya dengan mobil.

Lalu kami pun menuju Dieng, lagi-lagi karena mual saya berusaha untuk tidur. Tapi hal itu susah terwujud, karena bapak sopir mengemudi layaknya Vin Diesel di film fast furious, alias ngebut dan menegangkan. Hahahaa. Pokoknya udah kayak arena balapan aja deh. Syukurnya saya enggak muntah. Hehehe.

Sekitar 40 menit kemudian akhirnya kami tiba di Basecamp Banteng Patak, lalu kamu menuju rumah pak Yadi. Jadi pak Yadi ini yang sudah kami kontak untuk mengatur dan mengantar kami mendaki Gunung Prau.

TIBA... 

Di rumah pak Yadi yang digunakan sebagai basecamp inilah kami berbenah dan membereskan apa yang hendak dibawa. Lalu sekitar pukul 1 siang, kami mulai akan mendaki. Pas udah mulai menuju jalur pendakian, ehh pak Yadi menginformasikan kalau dari basecamp menuju pos 1 itu tersedia ojek dengan biaya 15 ribu. Naik ojek sangat efektif karena sudah bisa menghemat waktu dan tenaga berjalan selama 20 menit. Tanpa pikir panjang kami langsung memilih alternatif ojek sebagai pembuka pendakian kami. Hahahaha. Ini sih memang pendaki yang enggak mau susah. Wkwkwk. Ya saya pikir itu cukup murah dan bisa membantu perekonomian masyarakat setempat, jadi kenapa enggak? *alasan banget, padahal karena enggak mau jalan jauh aja. Hahaha.

PENDAKIAN... 

Jadilah kami tiba-tiba.. cling, udah sampe di post 1 aja.. Hahahaa, ajaib banget! Cuma butuh waktu sekitar 5 menit kami udah sampe pos 1. Bener-bener gak salah pilih. Lanjut dari post 1 menuju post 2 kami berjalan sekitar 30 menit-an dengan jalur agak menanjak, tapi gak nanjak-nanjak banget sih. Cuma cukup menguras tenaga, bahkan saya sempet terjerembap jatuh akibat kurang hati-hati ketika mengambil video.

Lalu tibalah kami di warung terakhir di post 2. Kami makan buah dan gorengan, terus istirahat hampir 30 menit sendiri. Bayangin, sebenernya kami niat naik gunung enggak sih ini. Wkwkwkwk


Akhirnya rute dari post 2 menuju post 3 kami beneran mendaki. Jalurnya naik terus gak ada landainya. Wahh baru kerasa anak gunungnya. Di sinilah mental mulai diadu. Nehh bahasanya. Saya sendiri mulai ngeluh dan berasa mulai nyesel kenapa pula harus ikut naik gunung. Tapi setiap perasaan itu muncul, maka saya langsung bilang pada diri sendiri, "tenang, aku pasti bisa! gak usah buru-buru puncaknya gak bakalan pindah".


Syukurnya saya dan teman yang lain juga selow aja jalannya, udah gitu pak Yadi sabar banget nemenin dan motretin kami tiap ada spot ketjeh untuk foto. Padahal pak Yadi sambil bawa keril yang gedenya udah kaya orang diusir dari rumah. Oiya, salah satu tips kalau capek daki, banyakin aja foto-foto pasti nanti gak kerasa capeknya, tapi ya itu gak bakalan sampe-sampe. Wkwkwkw.



Setelah perjuangan panjang dan kaki terus dipaksa nanjak, akhirnya kami tiba di pos 3 atau yang biasa disebut pos cacingan. Jangan tanya kenapa namanya begitu ya. Yang pasti istirahat sejenak di sini itu rasanya adem banget kayak liatin muka gebetan. Dikelilingi pepohonan rindang, cocok banget untuk duduk sejenak melepas penat. Saya lihat ada yang mendirikan tenda di sini. Jadi mungkin biar gak bawa barang banyak pas summit jadi nendanya di pos 3.



Kalau lihat jalur trek yang harus saya lalui, maka saya rasa wajar kalau gunung Prau ini dijadikan gunung pemula bagi para pendaki. Jadi jalurnya itu nanjak terus. Cuma enggak terlalu jauh karena tingginya yang 2565 mdpl.


Lagi capek-capek nanjak langit pun menggelap, kabut mulai menutup perjalanan, rintik hujan mulai menyapa. Udah dramatis belum? Hehehe, syukurnya kami pun berhasil tiba di post bayangan, dimana sinyal berada, yaitu post pelawangan. Kalau kalian udah baca tulisan ini berarti, selamat anda sudah hampir tiba. Ueaayae.

Lalu dengan sisa-sisa tenaga yang ada akhirnya kami tiba di area camp diiringi deras hujan yang berjatuhan kami berjalan cepat menuju tenda. Untungnya kami menggunakan jasa private open trip, begitu sampai kami langsung bisa masuk tenda. Hahahaa. Awalnya, biayanya sebesar 300/pax utk 6 orang, tapi tiba-tiba satu teman kami berhalangan hadir, jadinya kami kena biaya tambahan 300/ 5 orang. Tapi saya rasa jumlah itu sesuai dengan fasilitas yang kami dapat. Yaitu, mobil antar jemput terminal Mendolo-Basecamp Patak Banteng, tenda, makan 2 kali, toilet portable, dan kami hanya membawa barang pribadi saja. Udah gitu pak Yadi sebagai guide nya juga sangat ramah dan lucu. Affordable banget lah harganya.

AREA CAMP... 

Sesudah hujan reda kami berfoto sejenak ala megang cangkir di depan tenda orang lain dengan background kabut di belakang. Lalu kami berlima berkumpul dan bermain games yang menceritakan aib kami masing-masing. Untuk sesi ini gak usah saya perjelas ya, intinya kami jadi lebih tahu rahasia satu sama lain. Hahaha. Lagi asik main, ehh dianterin makanan enak berupa nugget, sop dan telur goreng. Ya ampun lagi-lagi saya mikir ini kami beneran anak gunung bukan sih. Hehehehe


Setelah kenyang jadinya ngantuk, jugaan badan udah capek banget, jadi kami memutuskan untuk tidur. Maksud hati tidur nyenyak namun apadaya harus bolak balik terbangun karena udara yang cukup dingin. Selain itu ada rombongan lain yang menyalakan musik dengan sangat keras. Malam itu gunung bak club malam. Berisik!! Hadeuhh please banget buat teman-teman yang suka naik gunung atau ada wacana naik gunung, jangan ditiru kelakuan begini. Itu mengganggu banget sih, sayang aja enggak ada petugas patrolinya, kalau ada pasti suruh matiin deh musiknya.

Tidur dengan keadaan tak nyenyak dengan segala rintanganya membuat waktu berjalan sangat cepat, eh tiba-tiba udah jam 04:30 pagi, ngintip keluar tenda dan langit udah keliatan cerah dengan warna oranye. Masih ngantuk tapi masak jauh-jauh cuma buat tiduran doang, akhirnya saya dan kembaran sepakat untuk bangun dan keluar tenda. Iyalah kalau tidur mah bisa kapan aja, tapi kalau lihat sunrise di gunung kan jarang-jarang. Pemikiran itu yang bikin kami semangat bangun. Hehehehe.

SUNRISE HUNTING... 

Selain kami teman kami yang lain juga udah pada bangun. Jadilah kami berlima pergi untuk menuju spot yang kami inginkan. Udara cukup dingin, tapi karena jalan nanjak menuju spot selanjutnya, udara dingin perlahan menghilang.


Mulailah kami berfoto di sana sini dan ambil video. Menangkap moment matahari terbit dibalik gunung. Selain kami sudah ada ratusan sunrise hunter lainnya. Wahh ternyata begini ya rasanya berburu pagi bersama ratusan orang. Hehehe. Oiya, hal penting yang harus kita ingat, seheboh apapun kita mau mengabadikan keindahan dan moment di gunung, usahakan tetap tertib dan menjaga kelestarian alam sekitar ya guys. Misalnya jalan sesuai trek, enggak metikin tanaman yang ada dan jangan sampai buang sampah sembarangan. Biar alam kita selalu terjaga keberadaannya. Oke?


Setelah hampir 2 jam berkeliling dan foto sana sini sembari menikmati udara segar, kamipun sepakat untuk kembali ke tenda. Kami yang awalnya mau pulang lewat jalur dieng Kulon, akhirnya memutuskan untuk tetap kembali via patak banteng. Selesai sarapan dan packing, kamipun persiapan turun. Sebelumnya kami menyempatkan diri foto di depan plang dengan tulisan 2565 mdpl. Ini Wajib banget sihh katanya. Hehehe.



TURUN... 

Kami turun jam 8:30 pagi, kalau pas berangkat kami harus nanjak, sekarang kami harus menuruni jalan. Saya pribadi merasa lebih capek dan kudu ekstra hati-hati. Karena harus kuat menahan tubuh yang bertumpu pada kaki saja. Walaupun capek tapi pulangnya terasa lebih cepat. Jadi sekitar 10:30 pagi kami udah sampe basecamp rumahnya pak Yadi lagi. Dengan catatan istirahat selama 30 menit di warung pos 2 dan naik ojek lagi dari pos 1 menuju basecamp. Hehehehee.



Lalu sesampainya di Basecamp pak Yadi, kami kembali beberes. Lalu selesai beberes kami mampir untuk membeli oleh-oleh. Selanjutnya kami diantar kembali ke terminal Mendolo, setelah sebelumnya kami makan sore di rumah makan yang terkenal akan mie ongkloknya. Sesampainya di terminal kamipun berpisah.


PULANG... 

Saya mencari bus menuju Purbalingga. Kali ini bis ekonomi kecil, dengan ongkos 25 ribu, maka 2,5 jam kemudian saya sudah tiba kembali di terminal Purbalingga dan sudah ditunggu kakak saya. Welcome home!

Perjalanan ini sangat singkat, cuma sabtu minggu tapi sangat menyenangkan, capek sihh tapi sebanding dengan pengalaman yang saya dapatkan. Pantas saja orang pada suka naik gunung, saya aja udah semangat pengen naik gunung lagi, walaupun dua hari kemudian kaki saya sakit banget sampe gak kuat jalan. Hahahhaa. Duhh naik gunung apa nih selanjutnya.


HAPPY READING SEGERAKAN TRAVELING! 

WITH LOVE, 

MRS





Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Hai Guys, 

What's Up! 





Dikenal sebagai kota curug, Purwokerto tak pernah habis menyajikan curug-curug bersih dan segar. Memang biasanya untuk menjangkau nya diperlukan usaha yang tidak mudah, eh tapi ada satu curug yang aksesnya mudah banget untuk didatengin. Namanya curug Bayan.




Terletak di dusun Kalipagu, desa Ketenger, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, curug yang terletak tepat di samping jalan raya ini berlokasi tidak jauh dari desa wisata Baturaden.



Sesampainya di lokasi, pengunjung dipungut biaya sebesar 7000ribu rupiah untuk tiket. Selanjutnya para pengunjung bebas menikmati beberapa spot yang ada.



Airnya jernih dan bersih juga sangat segar, mandi dan bermain disini membuat keponakan saya, Leo, hampir tidak mau pulang. Heehehe. Emank tempat ini rekomendasi buat liburan keluarga, karena ada juga villa yang bisa disewa.




Nah demikian sekilas tentang curug Bayan. Namun tetap perlu diperhatikan ya ketika membawa anak-anak karena ada beberapa bagian yang dalam dan berarus deras.


#happywatchingsegerakantraveling


With Love,

MRS



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai Guys,,


What's Up!


Mumpung belum ada liburan terbaru, seperti yang udah-udah saya bakalan ngepost kisah perjalanan lama saya yang belum sempat saya tulis...hehhehe..intinya mahh, semua perjalanan yang terjadi sebelum Mei 2017, soalnya blog ini kan dibuat bulan itu..jadi kisah perjalanan lama saya belum ada yang ke-post. Hehehehhe, kan lumayan untuk sekedar simpan foto, cerita dan kenangan ya ada...(Tujuan utama saya nulis blog)

Oke kali ini tentang perjalanan saya ke Pantai Menganti, perjalanan ini saya adakan tahun 2016 kayaknya...(tuhh pikun banget kan?) di bulan-bulan awal kayaknya, ga tahu dehh..yang pasti waktu itu saya masih pusing urusin tesis, dan kangen banget liat laut....Jadi ceritanya itu udah lama banget saya ga liat laut. Terakhir tahun 2014 kayaknya, jadi kebayang dong, betapa kangennya saya sama laut waktu itu.

Setelah bwosing akhirnya saya menemukan pantai Menganti yang ada berada di desa Karangduwur, kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, nah saya kan tinggal di Purbalingga, jadi kemungkinan waktunya sekitar 3-4 jam an dehhh. Akhirnya sesuai waktu yang ditentukan, saya pergi kesana bersama dengan kakak saya, Ka ani, ya hanya kami berdua.





Karena memang cuma berdasarkan googling dan mengandalkan GPS yang menyesatkan kami, akhirnya kami sempat nyasar sihh, wkwkkwkkwk...tapi kami berdua ga nyerah, akhirnya kami bertanya-tanya ama penduduk lokal yang kami temui di pinggir jalan aja. 

Yang penting patokannya, awalnya adalah Kebumen, setelah itu baru kami cari desa Karangduwur, setelah sampe di Karangduwur, perjalanan jadi lebih mudah karena memang hanya tinggal itu satu-satunya jalan.





Akses dari karangduwur masih lumayan baik, tapi semakin lama semakin jelek jalannya (ini cerita tahun 2016 ya guys, ga tahu kalo sekarang). Agak serem sih saya, jadi ini kayak kita harus melewati perbukitan, yang penuh dengan tikungan. Thanks God akhirnya kami sampai juga. 

Waahh memang pantai ini seperti berada di belakang pegunungan atau tebing gitu, makannya wajar aja jalanannya agak landai, makannya kami harus hati-hati banget bawa motornya.

Ketika sampai, waktu menunjukkan sekitar 1 siang. Ya ampun, saking lamanya di jalan dan pake acara nyasar segala, akhirnya ga mau menyia-nyiakan kesempatan kami segera bergegas memasuki kawasan pantai.  Ehh sebelumnya ada ticketing ya bayar 10 ribu kalo ga salah ingat.




Oh ya di pantai Menganti ini juga banyak batuan karang ya, jadi keren banget sihh. Nah ada satu hal yang membekas banget bagi kami berdua, jadi waktu itu sedang asik-asik foto-foto di tepi karang yang langsung berhadapan dengan laut tiba-tiba ada ombak gede banget yang dateng, kami berdua langsung kabur...ya ampunnn kalo keinget kejadian itu, ngeri banget sihhh. Jadi katanya, memang kadang suka ada kecelakaan disini, kebanyakan karena ombak.

Karena memang pantai yang banyak batuan karangnya biasanya sering berombak besar sih, jadi kalian harus super hati-hati kalo lagi maen ke pantai ini ya guys.




Syukurnya perjalanan yang sesusah itu sebanding sih dengan pemandangan yang kami dapatkan, apalagi waktu itu saya kan memang kangen banget ama udara pantai, jadi setelah menghirup udara asin pantai, kangen saya terobati. dalam hati saya kagum juga, wah ternyata ada pantai sebagus ini ya di Jawa Tengah. Setelah sejenak beristirahat, kami berdua pun mulai menyusuri pantai. Ambil foto sebanyak-banyaknya...wkwkwkw.






Kami ga lama menikmati pantai Menganti, karena jam 3 kami sudah bergegas pulang. Kami takut kemaleman sih, jadinya cari aman aja. Kebayang dong capeknya kami berdua, mana saya yang harus bolak-balik bawa motor lagi...huuffftt.. tapi ya syukur-syukur juga sih kak Ani mau nemenin..hehhehe. Gak apa-apa dehh meski cuma bentar, paling ga saya udah bisa liat laut.

Sebenernya kawasan pantai Menganti ini luas banget loh, tapi ya karena keterbatasan waktu ditambah kami udah lelah banget naek motor berjam-jam maka kami ga bisa explore banyak spot. Oh ya kayaknya sekarang juga udah semakin banyak sih spot-spot baru yang dibangun untuk mengundang semakin banyak wisatawan. Yang pasti bisa di bilang pantai Menganti bisa jadi alternatif kalian yang kangen pantai.

Happy Reading, Segerakan Travelling!


With Love, 

MRS

More adventure follow my Ig Cheebin_Kwiyowo

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Hai Guys??

What's Up!

" Travelling - it leaves you speechless, then turns you into a storyteller" -Ibn Battuta -

Gimana ne libur lebaran 2018 pergi kemana aja ama keluarga? Saya memang ga merayakan lebaran sih, tapi moment lebaran jadi saya satu moment yang ditunggu soalnya keluarga inti bisa kumpul karena pasti pada libur semua.

Seperti liburan lebaran tahun-tahun sebelumnya, biasanya kami ga akan terlalu banyak keluar rumah, tahu sendiri dong pasti jalanannya bakala macet banget. Biasanya kami sih abisin waktu buat ngumpul dan makan-makan aja di rumah. Namun, karena kemarin kakak pertama, ka ina, ikut mudik untuk yang pertama kali, dia penasaran banget sama suasana Baturaden, iya sihh aselinya kami mau ke Baturaden, tapi karena jalanan yang parah banget macetnya, akhirnya kami memutuskan untuk berkunjung ke "The Village Purwokerto".

The Village Purwokerto ini masih baru banget, dan berada di jalan yang menuju ke arah wisata baturaden, jadi lokasinya gampang banget di ketahuin sih, karena dari jalan besar juga keliatan bangunan megahnya.


Setelah melalui jalanan yang macet dari Purbalingga, akhirnya kami sampe juga di lokasi.  Pas sampe parkir langsung lemesss, ya ampuunnn parkirnya aja penuh banget, apalagi suasana di dalem coba..mana hari udah panas banget..nambah males mau masuk. Tapi ya udahlah ya, mau gimana lagi udah sampe ini.

Sesampenya di tiket pembayaran, kami membayar sebesar Rp. 20,000/ person, harganya lebih mahal karena hari raya besar kan, kata kakak saya, ka Ani, yang sebelumnya udah kesini, hari normal harganya cuma Rp. 10,000,-. Selesai bayar dan melewati bagian ticketing, kita langsung bisa menikmati 'kota eropanyhh'... ya nuansa ala-ala eropahh begitu kental begitu masuk di pintu masuk.




Sayangnya, ada banyak spot dan itu semua penuh dengan kumpulan manusia...hahahaa..ya iyalahh karuan...akhirnya setelah cari-cari spot yang kosong kami berdelapan [Mom, Ka Ina, Bang Bo, Ka Ani, Kembaran (Mawar), dan keponakan (leo)] berfoto dengan bantuan tripod. 



Setelah foto-foto di spot tersebut, kami pun mencari spot yang lain, ehhh ga lama mom udah kecapekan dan minta ngadem dulu di dalem ruangan yang nyewaain baju tradisional ala-ala eropahhh..kami lanjut-lanjut foto. Sedangkan Ka Ina dan Leo saking semangatnya udah kabur entahhh kemana...






Setelah agak lama ngadem di ruangan ber-AC tersebut, kami ajak mom untuk kelilingin the village, di spot-spot tertentu kami berhenti untuk abadikan moment sejenak. pokoknya ada spot yang kira-kira bagus kami berhenti dulu, tapi jangan harap fotonya sempurna ya guys, karena saking ramenya akan selalu ada "penampakan"di foto-foto kami, namanya juga liburan pas di hari libur.

Menurut saya The Village Purwokerto ini recommended place banget sihh buat jadi satu tempat liburan keluarga, selain bisa foto-foto kece, ada fasilitas lain yang cocok banget untuk anak-anak. 





Ada sangkar burung besar, ada arena rumah kelinci buat kasih makan kelinci, ada tempat untuk nangkap ikan, ada juga kandang sapi, selain itu kalo capek kita juga bisa naek mobil keliling dan dipandu oleh seorang driver, atau kalo yang mau lebih seru bisa sewa kuda.



Selain itu ditengah-tengah tempat ini kan ada semacam kali yang bisa dinikmati dengan menyewa kapal kecil, kemarin leo dan mamanya seneng banget nyobain ini. Ada juga cafe dengan pemandangan indah karena langsung berhadap dengan kali kecil yang jernih airnya. Pokoknya berasa kayak liburan di luar negeri gitu siih konsepnya. Ya saya bilang berhasil banget sihh itu, ahh saya jadi inget museum angkot di malang yang keren banget itu.

Hemm jadi emank tempat ini wajib banget sih kalian datengin kalo lagi mampir ke  Purwokerto. Yakin dehh bakalan dapet pengalaman baru yang seru banget dan bisa dapet foto-foto keren bareng orang tersayang. 


HAPPY READING SEGERAKAN TRAVELLING!


WITH LOVE, 


MRS

More adventure follow my Ig Cheebin_Kwiyowo

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Haii Guys...
How's Your Life?


"The Sky takes on shades of orange during sunrise and sunset, the colour that give you hope that the sun will set only to rise again" -Ram Charan-



Oke...sesuai janji..ini postingan saya yang terakhir tweenie backpacker di karimunjawa. Kalau masih ingat cerita saya, di hari terakhir kami menjelajahi Karimunjawa via darat, maka kami mengawalinya dengan melihat sunrise di pantai Turtle point bisa di baca di sini.

Maka sebagai penyempurna perjalanan kami, melihat sunset dari atas bukit adalah yang paling sempurna. Yupss maka kami mengarahkan motor kami ke arah pulang sekalian menuju bukit Joko Tuwo.

Jadi sebenernya bukit Joko Tuwo itu searah dengan jalan pulang, tapi karena kami ga ngeh, setelah nyasar baru deh ketemu jalan masuk ke bukit Joko Tuwo. Jadi bukit Joko Tuwo ini terletak di antara SMP dan SMK Karimunjawa, berjarak sekitar 15 menit lah dari alun-alun. Setelah bayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000, maka kami menghentikan motor, karena memang jalannya masih bebatuan dan nanjak, jadi daripada entar jatuh, kami memutuskan untuk jalan kaki. Ya itung-itung sekalian olahraga lah.

Beneran deh jalan dari bawah mendaki bukit Joko Tuwo ini bener-bener menguras energi, mungkin karena kami juga udah lelah seharian menjelajahi beberapa tempat. Jadi pas sampe di atas saya udah ga terlalu semangat untuk foto, mana ga bawa minum jadi udah berasa capek banget. Syukurnya si kembaran masih on jadi dia deh yang jadi model terus.

Mendekati pintu masuk, nanti kita bakalan liat tulang ikan yang tersusun yang menjadi cikal bakal nama bukit ini. Katanya, pernah ada ikan besar, sejenis ikan Paus yang terdampar dan oleh penduduk setempat ikan ini dinamakan Joko Tuwo. Sekilas, saya pikir ini cuma kerangka ikan bo'ongan tapi katanya beneran kerangka ikan asli loh. Saya ga terlalu berani deketin, soalnya waktu itu kan udah magrib, jadi saya agak parno aja, cckkckckckck...Jadi sekedar ambil foto dari jauh aja.




Setelah lelah mendaki akhirnya kami sampe di puncaknya dehh..Yeeeeyyy....oh ya sekilas kalo dilihat terkesan bukit Joko Tuwo ini udah ga terlalu terurus dehh, banyak spot-spot yang udah ga terlalu baik keadaaannya. Hemmm, sayang banget, padahal beneran dehh keren banget liat sunset dengan pemandangan perumahan penduduk dan laut sebagai latarnya. Mungkin kalau diurus dengan lebih baik, akan semakin mengundang banyak orang untuk datang ke bukit ini. Oh  ya, waktu itu cuma kami berdua loh yang ada disini, saya aja sampe mikir, apa bukit ini dah dibuka..hemm entahlah but sayang banget sihh tempat seketjeh ini dibiarin gitu aja.





Waahhhh ini mungkin first time bagi saya, mengawali hari dengan melihat sunrise  di pantai dan melihat sunset di atas bukit. what a perfect day!...Sebenernya saya agak cemas ga bakalan bisa liat sunset, soalnya kami berdua datengnya itu mepet banget dan thanks God, pas sampe atas pas banget matahari sedang berjalan manjha menuju peraduannya. Ahhhh perfecto dehh.



Di samping semua keterbengkalaian yang ada, saya pribadi bisa bilang bukit Joko Tuwo sebagai salah satu tempat sunset yang harus kamu lalui kalo lagi maen ke karimunjawa. Ahhh beneran dehh capeknya daki terbayarkan dengan sejuknya angin dan cantiknya si matahari dengan warna jingganya jadi tempat yang asik banget untuk menikmati senja.

Sekian perjalanan twennie backpacker kami berdua, saya merasa bahagia dan seru banget dan bersyukur banget ama Tuhan yang dah kasih kesempatan untuk kami berdua bisa explore Taman Nasional Karimunjawa dengan waktu yang lebih dari cukup, ketemu orang-orang yang baik, dapet pengalaman seru (ehh saya jadi bisa snorkeling lohhh...yeeaayyy). Paling berkesan sihh ketemu pak Sumadi dengan pantai Turtle pointnya,..ahhh semoga nanti bisa maen lagi ke Karimunjawa bareng mawar dan keluarga besar. Amin.

Oh ya endingnya, karena emank dah mulai gelap dan sepi, kami pun bergegas pergi...kami menuju alun-alun dan makan CUMI....enyakkk sekaliii..ahhh Love Karimunjawa so Much...see you again.


Ehhh ternyata masih ada yang ketinggalan lohhh....hahhahaa..parahhh....

Happy Reading, Segerakan Travelling!


With Love,

MRS



Ceritaku tentang karimunjawa bisa di cek di sini..
1. Serunya Tweenie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa (Part.1)
2. Serunya Tweenie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa (Part.2)
3. Serunya Tweenie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa (Part.3)
4. Serunya Tweenie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa (Part.4)
5. Serunya Tweenie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa (Part.5)
6. Serunya Tweenie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa (Part.6)
7. Serunya Tweenie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa (Part.7)
8. Serunya Tweenie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa (Part.8)



Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
What's Up...
How's Your Life?


" People are are afraid to pursue their most important dreams because they feel they don't deserve them, or that they'll be unable to achieve them" - Alchemist-


Tak ada rotan, akar pun jadi adalah pepatah yang cocok  banget buat tempat terakhir yang kami datengin di Karimunjawa. Yupsss berhubung kami ga pergi ke tempat penangkaran Hiu, maka kami pun mengunjungi Hotel Asri, loh apa hubungan? Mau liat hiu kog ke hotel?

Ya jadi hotel Asri ini adalah salah satu hotel dan penginapan yang cukup berkembang di Karimunjawa (btw, saya ga endorse ya, emank mau ceritain tempat wisatanya aja). Jadi hotelnya ada dua tempat, satunya di daratan, satunya di tengah lautan gitu. Keren ya. Nah kami sih aselinya pengen kesini karena liat dari pinggir jalan kog kayaknya tempatnya bagus banget, kaya hotel-hotel yang ada di pulau Ora gitu...hahahaa..berhubung belum bisa kesana...bisa dulu kali kesini..ga jauh beda kog...(sotoy banget ya saya) ...hehehee...




Setelah memarkirkan motor, saya dan kembaran pun mengikuti jalan setapak yang ada, kayak jalan-jalan di pelabuhan gitu, keren sih. Untuk masuk ke tempat ini kita dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 10.000 untuk sekedar liat-liat dan foto-foto aja.

Sempet iseng sih nanya dan liat langsung kamar penginapannya gitu, sebenernya termasuk murah kisaran harga 200-300 ribu/malam dan boleh berdua. Fasilitasnya tapi cuma kipas angin ama kasur 2 biji dan toilet bersama di ujung lorong. Memang sederhana banget  sih, tapi untuk pemandangan yang ketjeh banget pas banget tidur sih worth it sekali. Must try. (ngomong sama diri sendiri...).





Oh ya satu info tambahan, katanya dari sini itu bisa langsung menuju beberapa pulau yang ada disekitarnya, pihak pengelola juga menyiapkan kapal untuk pengunjung yang mau melakukan tour laut, tapi waktu itu kami ga sempet bertemu dengan pemiliknya jadi ga bisa tanya lebih detailnya. 

baca juga: Serunya Twennie Backpacker Menjelajahi Taman Nasional Karimunjawa: Part 6




Begitu masuk, kami pun langsung foto-foto. Hahahhaa. emank ga bisa liat spot keren langsung jepret-jepret aja.. Nah waktu itu kami sihh bener-bener latihan abis-abisan biar bisa foto keren dengan gaya lompatan..dan itu susah.. wwkwkww.

Capek lompat yang ga ada habisnya kami pun lanjut ke spot berikutnya. Spot selanjutnya adalah tempat penangkaran hiunya...ya awlohhh pas liat hiu berkeliaran gitu langsung saya deg-deg an..hahhaa....jadi itu kayak semacam kolam gitu, kolamnya air laut yang dibentuk persegi empat dengan kayu dan jaring sebagai pembatasnya.




Jadi selain memang sebagai hotel, pengunjung yang dateng ke tempat ini bisa juga melihat tempat penangkaran hiu. Tempat penangkaran hiunya bisa bisa dibilang kecil banget sih, seukuran kolam gitu dan hiunya pun masih kecil-kecil, tapi entah kenapa atau gegara mindset yang bilang kalo hiu itu binatang yang buas kali ya, jadi saya tetep aja takut, begitupula kembaran saya. Mana saya ngerjain dia, kan kebetulan dia lagi 'dapet' saya bilang aja awas lohh hiu kan penciumannya tajam dan suka bau darah..hahhaa..nambah ketakutan lah dia. wkwkkwkwkkw.





Jaraknya aman dan lumayan jauh sih tapi entah kenapa saya deg-deg an terus, udah kayak lagiliat gebetan aja jalan...hahhaha..seremm euuyyy liat hiu secara langsung even tuh hiu kecil-kecil sebenernya. Jadi pas foto saya dan kembaran emank agak-agak serem gimana gitu.. hahahhaa.

Ngebayangin ga gimana jadinya kalo saya dan kembaran pergi ke tempat penangkaran hiu yang sesungguhnya dan beneran berenang gitu di antara mereka semua..

Selesai foto kami lanjut ke spot selanjutnya, sebenernya spotnya berdekatan semua. Cuma kog semuanya bagus..hahahhaa. Ini istilah spot istilah saya sendiri ya, jadi saya anggap spot kalo ada tempat ketjeh untuk foto. Hehehehehe.


Overall tempat ini meski sebenernya hotel, tapi keren banget sih untuk didatengin. Oh ya kalo kalian ada rencana mau main ke Karimunjawa, hotel asri ini bisa jadi pilihan buat liburan loh...harganya ga terlalu mahal kog, apalagi kalo dibandingin ama pemandangan yang ada harga segitu sih itungannya murah. Ga percaya? langsung aja ke sini cusss..

Demikian keseruan kami, sebenernya setelah dari sini masih ada satu lokasi lagi yang kami datengin...setuju ga saya bikin satu part terakhir. Hahhahaa.Ya bikin ajalah, wong dah didatengin...wkwkkwkkw

" Orang-orang takut mengejar impian terbesar mereka karena mereka merasa bahwa impian-impian tersebut tidak pantas untuk mereka, atau mereka takut tidak akan pernah mencapai mimpi tersebut" - Alchemist-

Happy Reading, Segerakan Travelling!


With Love,

MRS
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Older Posts

Kubbu

Kubbu Network

http://kubbu.net/

https://kubbu.net/wp-content/uploads/2019/06/logo-kubbu-komunitas-blogger-dan-buku-300x225.jpg

Mengenai Saya

Foto saya
mrs.kingdom17
Hiiii... how's your life?
Lihat profil lengkapku

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Agustus 2021 (1)
  • Juni 2021 (1)
  • Maret 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Oktober 2020 (30)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (3)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (4)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (4)
  • Juni 2019 (5)
  • Mei 2019 (4)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (5)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (4)
  • November 2018 (3)
  • Oktober 2018 (2)
  • September 2018 (2)
  • Agustus 2018 (3)
  • Juli 2018 (4)
  • Juni 2018 (3)
  • Mei 2018 (3)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (8)
  • Februari 2018 (2)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (11)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (4)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (8)
  • Juli 2017 (4)
  • Juni 2017 (2)

Created with by ThemeXpose